Ini adalah obrolan seorang guru kepada beberapa orang muridnya. Di luar jam sekolah, mereka berkumpul di salah satu meja di kantin. Pak guru bercerita:
Dengar ya, bapak mau cerita soal tanda larangan. Dulu waktu bapak masih tinggal di kampung bapak punya teman yang jualan mie ayam. Lalu suatu ketika, di saat sedang melayani pelanggan ada cicak jatuh ke panci air rebusan mie. Cicak itu diambilnya lalu dibuang, tetapi si pelanggan urung membeli mie ayam yang dipesannya. Dan ternyata si pelanggan tadi itu cerita ke setiap orang-orang yang dia temui. Lalu, banyak orang yamg tadinya mau pesan mie ayam malah dibatalkan. Tetapi untuk beberapa orang yang tidak langsung percaya tetap ke kedai mie, tetapi bertanya dulu soal cicak jatuh itu sebelum beli mie. Karena si tukang mie ini orang jujur, maka dia cerita apa adanya soal kejadian itu. Beberapa orang masih mau beli, tetapi beberapa juga yang tidak mau beli.
Ada seorang anak murid yang keheranan, lalu bertanya: Kok masih ada aja yang mau beli ya pak, padahal kan si tukang mie juga sudah cerita kejadiannya.
Jawab pak guru: Iya saya juga heran, kenapa masih ada yang mau beli, coba kamu, apa kamu mau beli mie ayam yang direbus di air yang kecemplung cicak?
Murid itu menjawab: Ya tidak mau pak, jijik. Tapi kenapa ya kok ada yang mau?
Kata pak guru: Ya mungkin karena memang mie ayam buatannya memang sangat enak, bahkan mungkin bikin orang ketagihan. Tapi ada yang lebih bikin bapak heran yang kejadiannya sangat mirip dengan mie ayam itu. Kamu mau tahu?
Kata murid: Iya mau pak, apa itu?
Pak guru: Hal itu serupa pada rokok.
Murid: Rokok pak? Serupa apanya?
Pak Guru: Iya pada rokok. Di bungkus rokok ada tulisan peringatan, bahwa rokok bisa mematikan. Dan setiap produsen rokok dengan jujur membubuhi pada semua produknya. Tetapi anehnya kok masih ada saja yang beli dan mengkonsumsinya. Padahal semua orang yang membelinya pasti bisa membaca peringatan yang ada di bungkus rokok itu.
Murid: Iya ya betul pak, padahal peringatannya jelas. Tetapi orang-orang masih aja beli rokok. Dan rokok lebih parah dari cicak nyemplung di panci.
No comments:
Post a Comment