Bahagia


Sudah fitrah manusia untuk selalu ingin mencapai bahagia, tetapi jalan yang ditempuhnya beragam, dan perspektif tujuan bahagia pun beragam. Semoga kita tidak tersesat jalan untuk mencapai bahagia.

Bagi seorang pekerja, bahagia adalah gaji yang besar, teman sekantor yang baik, atasan yang tidak galak, dan suasana kantor yang nyaman. Tapi sampai kapan? Ya setidaknya selama dia bekerja di situ. Atau sampai dipecat? Sampai diphk dan dapat pesangon? Sampai tua dan dapat pensiun? Kebahagiaan sebagai seorang pekerja ada titik jenuh dan titik klimaksnya juga.

Bagi seorang pengusaha, bahagia adalah keuntungan yang selalu bertambah pada tiap usahanya, relasi-relasi yang dapat memberi peluang, karyawan-karyawan yang rajin dan bersemangat, dan terobosan baru yang membawanya kepada sukses. Tapi sampai kapan? Ya setidaknya selama usahanya itu berjalan baik, selama tidak ada krisis, selama tidak ada force majeur, selama tidak ada pengkhianatan dari orang kepercayaannya, atau selama belum ada skandal yang akhirnya merembet pada kinerja perusahaan.

Bagi seorang suami, bahagia adalah istri yang menyejukkan mata, yang memelihara dirinya dan rumahnya agar tetap nyaman, yang memasak masakan yang nikmat lezat dan berselera, serta gairah yang selalu terpuaskan. Tapi sampai kapan? Ya selama istri masih muda dan sanggup, atau selama belum ada kebosanan, atau selama belum ada orang ketiga yang membuat kacau. Bagaimana jika ada suatu keadaan yang memaksa harus bercerai? Atau ada suatu peristiwa yang merenggut nyawanya?

Bagi seorang istri, bahagia adalah perlindungan yang hangat, cinta kasih sayang yang berbunga-bunga, segala kebutuhan tercukupi, gelora asmara yang membara, dan ketulusan untuk menerima dirinya apa adanya. Tapi sampai kapan? Ya selama dia belum tertarik kepada sosok yang lebih indah dalam pandangannya, selama belum ada masalah yang merecoki hubungan keduanya, atau tiba-tiba dia kehilangan kemampuan dan kewajibannya sebagai suami, bahkan bagaimana jika ternyata suami minta nikah lagi?

Bagi orangtua, bahagia adalah anak-anak yang lucu ketika masih kecil dan berbakti setelah dewasa, mampu memberikan segala keinginannya si buah hati, harapan-harapan yang terpenuhi dan diwujudkan olehnya kelak. Tapi... akankah terjadi? Bagaimana bila dia terjerat masalah drugs dimasa muda? Atau dia mendapatkan teman-teman yang membawanya pada pergaulan yang membuatnya hancur? Atau ternyata setelah dewasa justru menjauhi orangtuanya yang mungkin belum tentu baik dalam pandangannya?

Semua itu tidak abadi, semua itu fana (sementara), karena segala sesuatu yang ada di alam duniawi bersifat sementara. Tahukah bahagia yang sebenarnya?

Bahagia adalah ketika melangkahkan kaki kemanapun terasa ringan.

Bahagia adalah tidak merasa kekurangan dan tidak merasa harus memiliki sesuatu.

Bahagia adalah ketika hari ini masih memiliki makanan untuk diri sendiri dan orang-orang yang kita sayangi.

Bahagia adalah ketika pagi merasakan segar udaranya, mendengar kicau merdu dari burung-burung yang riang, dan semangat untuk memulai hidup di hari yang baru.

Bahagia adalah ketika siang tidak dibebani oleh tekanan dan kesibukan, dan segala aktifitas menjadi "easy going".

Bahagia adalah ketika sore mampu menghirup nafas panjang dan berkata "ah... hari yang indah", lalu melangkah santai menuju rumah.

Bahagia adalah ketika malam dan berada di rumah, semuanya terasa terang, tidak ada masalah yang menggelayut di pundak, dan memejamkan mata tanpa beban.

Bahagia adalah MAMPU MENERIMA SEGALA SESUATU DENGAN HATI LAPANG DAN TERBUKA.

Dan kebahagiaan yang paling ULTIMATE adalah ketika kita telah sampai di alam AKHIRAT, kita mampu melangkah pulang ke istana yang indah di SYURGA, dan sangat jauh dari ancaman siksa api NERAKA, yang kesemuanya itu bersifat ABADI SELAMANYA.

Pencarian kebahagiaan di alam dunia itu seperti perut lapar, segala makanan sepertinya terasa sangat enak. Ketika menyantapnya dan mulai terasa kenyang, terasa jenuh untuk terus menyantapnya, bahkan jika terus dipaksakan justru bisa jadi kita akan memuntahkannya. Itulah mengapa setiap muslim diwajibkan untuk berpuasa, karena hikmah rasa lapar mirip seperti pencarian kebahagiaan di alam dunia. Merasakan kebahagiaan di alam dunia masih bisa kita kejar dan usahakan, yang menjadi masalah besar adalah bagaimana mendapatkan kebahagiaan yang ULTIMATE. Mari kita bahagia, bahagia yang secukupnya di alam dunia serta kebahagiaan ULTIMATE ABADI SELAMANYA di Syurga.


Sruputan Kopi, blog: sruputankopi.blogspot.com

No comments:

Post a Comment